Kajian ini bertujuan untuk mengetahui opersionalisasi kombinasi metode Iqra dan Tartila dan efektifitas dalam penerapan metode tersebut pada anak usia dini di Madrasah Diniyah Raudlatul Muta’allimin. Pemilihan metode tersebut diharapkan dapat mengakselerasi kemampuan baca tulis Al-Quran secara optimal. Sementara pendekatan yang digunakan adalah pendekatan edukatif dan partifipatoris guna mencapai target capaian yang ditetapakn selama pengabdian. Hasil dari PKM: 1). Pembelajaran baca tulis Al-Quran difukuskan pada menyimak, membaca, makharijul huruf, dan menulis huruf-huruf hijaiyah. Kemudian untuk meningkatkan ingatan peserta didik menggunakan metode hafalan dan dikte (imla’). Selain itu, pendamping melakukan rotasi kelas pada saat pergantian jam pelajaran. Penerapan metode Tartila lebih menekankan pedak kemampuan menulis, sementara metode Iqra’ lebih difokuskan pada cara cepat baca Al-Quran. 2). Penggabungan antara dua metode yang fokusnya berbeda yaitu kombinasi metode Iqro’ dan Tartila memberikan pada meningktnya kemmapuan dasar anak usia dini terhadap huruf hijaiyah, makhorijul huruf, dan cara-cara dasar menulis Al-Quran dengan lebih efektif, efisien dan beimbang antara kemampuan membaca dan menulis. Melalui metode kombinsi tersebut anak didik tidak hanya menghafal huruf tapi juga dapat mengingat lebih mudah melalui praktik menulis secara berulang-ulang sekigus memiliki kemampuan menilis Arab dengan baik.
Ainul Yakin, Ainul Yakin, Ferdiyansyah, Fikri Ahmad Ghani,
Candra Revan Daus
a. Madrasah
Diniyah Raudlatul Muta’allimin
Lembaga Madrasah Diniyah (MADIN) adalah pendidikan keagamaan Islam non
formal yang menyelenggarakan pendidikan Agama Islam. Pendidikan tersebut
sebagai penyempurna (takmiliyah) Pendidikan umum mulai jenjang
pendidikan dasar, menengah dan tinggi. MDRM berada di kawasan Perum WPS Dusun
Pengadegan Desa Kebonagung Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo Provinsi
Jawa Timur. Madrasah ini didirikan pada tahun 2018 oleh Ainul Yakin Bersama
tokoh masyarakat yang lain seperti Muhammad Syaifudin Zuhri, Subardi, Hadi dan
Edi Morjianto. Latar belakang berdirinya MDRM karena minimnya Pendidikan Islam
di lingkngan perumahan WPS. Jadi Pendidikan tersebut sebagai wadah bagi anak-anak
yang bertempat tinggal di Perum WPS. Sebab menurut Ainul Yakin, agar anak-anak
bisa membaca al-Quran dengan baik dan memahami keawajiban agama Islam dasar
tidak cukup dengan Pendidikan umum. Oleh karenaya harus dibantu dengan
Pendidikan lain yang sifatnya non formal seperti Madrasah Diniyah atau Taman
Pendidikan Al-Quran.
Apalagi kesadaran warga Perumahan WPS terhadap Pendidikan Islam relatif
rendah sehingga perlu adanya upaya untuk memasyarakatkan Pendidikan Islam sejak
dini. Sehingga akhirnya dapat membudayakan Al-Quran dan praktik keagamaan yang
baik. Selan itu juga perlunya materi agama dasar seperti fiqih, ilmu tauhid dan
ilmu akhlak untuk anak-anak.
Adapun visi dan misi MDRM ialah terwujudnya anak saleh dan berakhlak
mulia. Untuk mencapai visi tersebut, Kepala MDRM membuat misi: Menyelenggarakan
Pendidikan Agama Islam yang kondusfi, Melakukan pendampingan dan pembinaan
terhadap santri, Optimalisai kegiatan belajar mengajar dan klasifikasi serta pemetaan
peserta didik sesuai usia dan kemampuan.
Gedung
Madrasah Diniyah Raudlarul Muta’allimin
Gedung di atas digunakan untuk
sarana belajar santri Madin. Sarana ini sifatnya pinjaman karena MDRM tidak
punya gedung sendiri. Tempat tersebut adalah Mushalla Baitus Salam kompleks
perumahan. Sempat beberapa kali sarana belajar MDRM menggunakan tempat lain
seperti musallla al-Hidayah.
Sementara jumlah santri sekitar 56 orang, ada yang sudah lulus dan ada
juga yang sudah berhenti karena pindah daerah atau tempat tinggal. Untuk model
kelas menggunakan model klasikal atau pembagian kelas menurut kemampuan masing-masing
santri, yang biasa disebut kelas I’dad (kelas bawah) dan kelas Ula (kelas
atas). Kelas I’dad dibagi menjadi 2, I’dad A pelajaran iqro’ 1-2, dan I’dad B
pelajaran iqro’ 3-4, kemudian untuk kelas Ula dibagi menjadi 2, Ula 1 pelajaran
iqro’ 5-6, dan Ula 2 pelajaran Al-Quran. Untuk memudahkan pemahaman dapat
dilihat pada tabel di bawah.
Jumlah Peserta Didik Madrasah Diniyah Raidlatul
Mutaallimin
|
Kelas |
I’dad A |
I’dad B |
Ula 1 |
Ula 2 |
|
Jumlah
Santri |
12 |
13 |
9 |
11 |
|
Materi
Iqra’ |
Iqra’ 1
daan 2 |
Iqra’ 3
dan 4 |
Iqra’ 5
dan 6 |
Al-Quran |
|
Materi
Tartila |
Tartila 1 |
Tartila 2 |
Tartila 3 |
Tartila 4 |
Jumlah
pererta didik yang belajar di MDRM pada tahun 2019 sebanyak 73 orang. Namun pada tahun
berikutnya, 2020
mengalami penurunan karena ada yang lulus dan terdampak Pandemi Covid 19. Saat ini, tahun 2022 jumlah santri sebanyak 46 orang.
Dari jumlah tersebut dibagi menjadi empat kelas yaitu kelas I’dad A, I’dad B,
Ula 1 dan Ula 2.
Sedangkan materi pedoman buku ajar yang digunakan
adalah Iqra’ dan Tartila. Kedua materi tersebut digunakan secara bersamaam pada
masing-masing tingakatan. Hal ini bertujuan agar kemampuan membaca dan menulis
anak didik berjalan seara seimbang. Selain itu, gabungan metode diarahkan agar
terjadi akselerasi baca tulis Al-Quran. Metode Tartila adalah salah satu metode
pembelajaran Al-Quran bagi para pemula yang disertai latihan menulis dan
penjelasan ilmu tajawib dasar. Metode tersebut merupakan metode yang
dikeluarkan oleh Jamiyah Qurra’ wa Tahfizd NU.
b. Progres
Pelaksanaan
Penerapan gabungan metode Iqro’
dengan Tartila disesuaikan dengan kebutuhan anak didik dan rombongan belajar (rombel).
MDRM menerapkan empat rombel yang terdiri
dari I’dad A dan B, Ula I dan Ula II. Materi Al-Quran ini merupakan materi utama yang setiap hari dijajarkan.
Selain materi Al-Quran ada materi lain seperti fiqih, ilmu tauhid dan ilmu
akhlak. Materi Al-Quran
dengan menggunakan Iqro’ jilid 1-6 dan Tartila Jilid 1-4. Jika sudah lulus materi tersebut maka
dilanjutkan dengan membaca Al-Quran juz 1-10 di kelas Ula II. Kemudian untuk
materi penunjang untuk
Al-Quran ialah ilmu tajwid, hafalan surat
pendek, menulis huruf Hijaiyah makharijul huruf. Dengan
demikian, pengajaran Al-Quran untuk anak usia dini dapat mencapai kebutuhannya
sampai pada tingkat kemahiran tajwidnya dalam membaca Al-Quran sebagaimana yang
dipraktikkan Rasulullah SAW yang selalu menganjurkan agar dalam membaca
Al-Quran dengan bertajwid (Thalib, 1991).
Kemudian
untuk metode Tartila merupakan
metode belajar membaca Al-Quran yang disampaikan secara seimbang antara
pembiasaan melalui pendekatan klasikal dan kebenaran membaca melalui pendekatan
individual dengan teknik baca simak. Tujuan metode Tartila yaitu untuk
mempermudah guru dalam proses mengajar, menggali minat peserta didik untuk
mempelajari Al-Quran dengan mudah, meminimalisir waktu dan melatih daya ingat.
Selain itu metode ini juga dapat mempercepat daya ingat peserta didik termasuk
pada hafalan ayat-ayat pendek dan bacaan sholat.
Strategi dan Metode Pelaksanaan PKM
|
No |
Agenda |
Strategi |
Metode |
Target |
|
1 |
Pengenalan
huruf Hijaiyah |
Pasif dan
Aktif learnig |
Talqin
(guru baca-anak didik mengikuti) |
Mengenal
masing-masing huruf hijaiyah
|
|
2 |
Pengenalan
Angka-angka Arab |
Praktik |
Menulis
berulang-ulang |
Mengenal
angka Arab |
|
3 |
Pengenalan
tanda baca |
Mendengarkan |
Menyimak
dan praktik |
Mengenal
tanda baca dengan benar |
|
4 |
Pengenalan
cara menulis huruf satu persatu |
Aktif Learding
|
Menyimak
dan praktek menulis |
Mampu
menulis huruf hijaiyah dengan benar |
|
5 |
Pengenalan
makharijul huruf |
Praktik
dan Latihan
|
Latihan
membaca berulang |
Anak didik
dapat menyebutkan huruf sesuai makharijnya |
|
6 |
Pengenalan
makharijul huruf |
Praktik
dan Latihan
|
Latihan
membaca berulang |
Anak didik
dapat mempraktikkan dan membunyikan huruf dengan benar |
Program di atas dilakukan selama
tiga bulan setiap hari kecuali hari Sabtu dan Ahad. Pendamping melakukan
pembinaan sesuai dengan kelas yang telah ditentukan. Pengabdian kepada masyarakat
ini difokuskan pada pendampingan pembelajaran baca dan tulis cepat Al-Quran di MDRM.
Pembelajaran cepat ini sebagai upaya untuk mengimbangi materi sekolah yang
secara struktur kurikulum lebih padat, sementara materi Agama relative minim.
PKM semacam ini menjadi penting untuk mewadahi anak usia dini dalam belajar
Al-Quran dengan efektif dan efisien.
Foto
Kegiatan Belajar Mengajar Madin dengan Metode Iq’ra’ dan Tartila
Foto di atas menunjukkan kegiatan yang dilaksanakan oleh PKM dalam
pembelajaran dengan metode Iqra’ dan Tartila. Metode pembelajaran dilakukan
dengan model klasikal dengan materi yang berbeda sesuai dengan usia dan
kompetensi.
Selama melakukan PKM, pihak mitra merasa terbantu dengan adanya
pendampingan Al-Quran dengan lebih intensif oleh pihak kampus. Apalagi lokasi
mitra yang berada di perumahan dan minim materi Agama. Sekalipun keberadaan madrasah
diniyah ini seringkali dipandang sebagai kelas nomor dua di mata masyarakat. Warga
perumahan lebih mengutamakan sekolah umum. Jika pun memilih madarasah hanya
sebagai alternatif. Jadi dukungan wali murik yang relative rendah menjadi
kendala sendiri untuk mencapai target yang ditetapkan pihak madrasah. Selain
itu juga kebijakan pemerintah mulai dana, beasiswa, dan bantuan-bantuan lainnya
yang dikelola pemerintah, madrasah selalu mendapatkan yang terakhir dan kadang
terlewatkan.
Kegiatan pengabdian di Madrasah Diniyah Raudlatul Muta’allimin dilakukan
dua kali dalam satu minggu yaitu hari Senin dan Kamis, dimulai dari jam 15.10-16.50
WIB dan dihadiri enam (6) peserta PKM dan guru yang yang punya jadwal. Tahapan
pengabdian yang pertama yaitu tahapan persiapan atau perkenalan. Dalam tahap
ini peserta PKM melakukan identifikasi masalah yang ada di lapangan terkait
dengan pengajaran Al-Quran, jumlah santri, jumlah guru dan materi yang
diajarkan. Identifikasi masalah dilakukan dengan dialog, obsrvasi dan wawancara
kepada pimpinan dan guru. Berdasarkah
hasil observasi terdapat beberapa kendala yang dialami oleh para guru dalam
mengajar antara lain, kurang kondusifnya kelas karena runag belajar yang sangat
terbatas, jumlah santri yang relative banyak tapi tidak disiplin masuk
madrasah. Oleh karenanya, Tim menentukan metode pengajaran Al-Quran yang mudah
dipahami oleh santri yang sesuai dengan kemampuan mereka antara lain metode
Iqo’ dan Tartila.
Di MDRM terdapat beberapa pembagian kelas, antara lain: kelas I’dad A,
I’dad B, Ula 1 dan Ula 2, selain itu karena peserta kelompok KKN pengabdian
hanya mendapatkan bagian mengajar pada hari Senin dan Kamis, maka Tim mengikuti
alur jadwal yang sudah berjalan sejak dulu. Pembelajaran di I’dad A karena para
santri masih belajar Iqro’ 1-2 yang berjumlah sekitar 15 satri, maka Tim menekankan
kepada santri untuk lebih fokus kepada menyimak, membaca, intonasi suara, dan
menulis huruf-huruf hijaiyah. Kegiatan ini bisa dicontoh melalui simaan dari
guru ataupun teman-temannya. Dengan demikian para santri dapat melantunkan
huruf hijaiyah yang baik dan benar, dan dapat membantu santri untuk dapat
melafalkan huruf tersebut dengan fasih. Begitu juga di I’dad B yang santrinya
masih belajar Iqro’ 3-4 yang berjumlah sekitar 17 santri, untuk pembelajarannya
tidak jauh beda dengan pembelajaran I’dad A.
Kemudian untuk penerapan pembelajaran di Ula 1 yang santrinya berjumlah
sekitar 14 santri, Tim PKM lebih memfokuskan kepada menyimak, membaca, hafalan
surat-surat pendek, dan imla’, karena para santri masih mengaji Iqro’ 5-6.
Untuk Ula 2 karena santri sudah Al-Quran yang berjumlah 15 santri, maka Tim menekankan
untuk lebih fokus ke pembacaan lafadz makhorijul huruf, tajwid, dan imla’.
Selain itu ada beberapa kegiatan perolingan atau pergantian posisi guru
pengajar yang diterapkan sebelum dan sesudah istirahat, kegiatan ini hanya
berlaku untuk I’dad A dan B. Sebelum istirahat Tim PKM ngajar di I’dad A dan guru
di I’dad B, dan setelah istirahat Tim pindah kelas ke I’dad B dan guru di I’dad
A. Dengan starter tersebut kemampuan anak didik lebih terukur selama
pelaksanaan PKM. Bahkan ada perkembangan
kemampuan baca dan menulis karena pembagian kelas dengan model dampingan kelas
yang lebih kecil. Hal ini terbukti pada saat diadakan lomba baca Al-Quran.
1
Pembahasan
PKM yang dilakukan Tim adalah salah satu implementasi dari Tridharma
Perguruan Tinggi yang mana seorang dosen tidak hanya melakukan transfer of
knowladge tetapi juga turun ke masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan
nyata di masyarakat. Dalam PKM kali berbentuk pendampingan dan pembinaan baca
tulis Al-Quran di MDRM. Pada saat melakukan pendampingan beberapa metode yang
dilakukan yaitu ceramah, dialog, hafalan, praktik, talqin (guru baca, kemudian
peserta didik mengikuti), dan penugasan.
Metode pengajaran Al-Quran dilakukan secara flaksibel disesuaikan dengan kebutuhan
peserta didik. Sebab masing-masing tingkatan di MDRM
memiliki kemampuan yang berbeda-beda sehingga membutuhkan
keterampilan guru untuk mengemas kegiatan pembelajaran yang menyenangkan
sehingga membuat anak-anak merasa senang dan menikmati saat belajar.
Gambar
di atas adalah salah satu contoh penerapan metode Tartila untuk penoingkatan
kemampuan pserta didik dalam menulis Al-Quran.
Dalam buku pedoman metode Tartila sudah dilengkapi dengan tata cara
menulis. Peserta didik dinggal dilatih untuk menebali seriap buku kerja yang
sudah disediakan dalam Buku Pedoman.
Pembelajaran untuk anak usia dini tentu berbeda dengan
orang dewasa. Anak usia dini secara psikologis membutuhkan model pembelajaran
yang menyenangkan, menghibur, dan menarik untuk meningkatkan daya ingat
anak-anak terhadap materi. Metode-metode pembelajaran yang beragam selama
pelaksanaan PKM berdampak
pada kualitas pembelajaran sehingga dapat peserta
didik pebih cepat dalam menangkap materi. Hal ini terbukti dari hasil pre tes
dan post tes yang dilakukan Tim. Namun demikian, Tim mengakui adanya kelemahan
saat PKM seperti tenaga PKM yang ada keterbatan dalam penguasaan kelas. Sebab
kualitas pengajar sangat menentukan kualitas peserta didik. Apalagi yang
menjadi subjek PKM adalah anak usia dini yang memerluakan perhatian serius
dari stakeholder serta manajemen
dan sumber daya manusia yang memadai agar capaian pembelajaran sesuai target. (Wafa
et al., 2021).
Pelakasaan PKM salama rentang tiga bulan diakui telah berdampak pada
perubahan kemampuan peserta didik dalam membaca dan menulis Al-Qurana dengan
metode Iqra’ dan Tartila. Metode tersebut cukup relevan untuk anak usia dini
sebagaimana hasil penelitian Nurhayati dalam Penelitian Tindakan Kelas di
Raudhatul Athfal Daarul Hikmah Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis.
(Nurhayati et al, 2018). Keberhasilan dalam pelaksanaan PKM juga didukung
dengan kombinasi metode Iqro’ dan Tartila yang
dilakukan secara bersamaan. Khususnya metode Tartila pada aspek kemampuan
menulis yang sangat relevan untuk anak usia dini.
Selain praktik menulis peserta didik juga dilakukan pendekatan face to
face (talqin) dengan cara menyimak setiap
bacaan yang disampaikan oleh guru, dimana
santri membaca langsung satu
persatu di depan guru. Hasil
bacaan tersebut kemudian ditulis
atau dicatat dalam buku harian
santri dan buku Tartila. Jika santri bisa
membaca dengan lancar dan benar maka santri bisa melanjutkan ke halaman atau
materi selanjutnya. Teknik talqin ini juga bisa disebut
teknik privat atau individual.
Sedangkan bagi santri yang sudah khatam diwajibkan untuk membaca halaman
terakhir dan jika bacaannya baik dan benar maka bisa dilanjutkan pada tingkat
jilid selanjutnya atau dapat melanjutkan ke tahap Al-Quran.
Selain
teknik individual yang telah dijelaskan di atas, penerapan pembelajaran di MDRM juga menggunakan teknik klasikal.
Dimana semua santri mendapatkan waktu yang sama ketika belajar. Jadi antara
santri yang datang lebih dulu dan yang terakhir mendapatkan alokasi waktu belajar
yang sama. Ketika pelajaran dimulai maka guru memberikan contoh bacaan atau materi
terlebih dahulu, kemudian semua santri mengikuti bacaannya. Hal ini juga bisa
mengatasi kebosanan santri dalam belajar Al-Quran. (Rozi
& Aminullah, 2021).
Target
yang diharapkan Tim mencapai maksimal ternyata hanya mencapai 85 %
keterccapaian. Target capaian
semula sebesar 90 %. Berarti ada selisih 5 % yang tidak tercapai. Hal tersebut
terkendala hal-hal
berikut yaitu, rendahnya dukungan orang tua sehingga anak didik tidak masuk
madsarah secara disiplin dan pentingnya belajar Al-Quran, rendahnya motivasi
belajar mandiri
saat guru focus pada anak didik yang lain, banyak anak luar peserta didik yang
bermain di lingkungan madrasah sehiingga anak-anak tidak focus. Selain itu juga
pengaruh permainnan game online bersama sehingga bolos belajar. Hal ini juga
diakui dalam penelitian Sopyan Sauri di TPA Dusun
Lelonggek Desa Suntalangu (Sauri
et al., 2021).
2
Penerapan
Iqra’ dan Tartila: Solusi Percepatan Baca Tulis Al-Quran
Selama pelaksaan PKM dalam durasi waktu tiga bulan
penerapan metode Iqra’ dan Tartila telah menjadi solusi yang efektif untuk
percepatan baca tulis Al-Quran untuk santri Madin. Hal ini terbukti dengan
kemampuan anak didik sebelum dan pasca PKM. Sebelum PKM 70% santri Madin atau
setara 30 orang kesulitan dalam menulis Al-Quran. Akan tetapi daru julah
tersebut pasca PKM ada peningkatan kemapuan yaitu sejumlah 20 orang mengalami
peningkatan kemampuan menulis Al-Quran.
Implikasi penerapan metode kombinasi Iqro’ dengan
Tartila di MDRM telah memberikan pemahaman dasar bagi anak usia dini terhadap
huruf hijaiyah, tajwid, makhorijul huruf, dan menulis Al-Quran. Hal ini bisa
dijadikan bekal anak usia dini dalam membaca Al-Quran dengan baik dan benar
sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan. Selain itu juga dapat meningkatkan
kualitas lembaga, karena semua santri telah berlomba-lomba dalam belajar
membaca Al-Quran dengan baik, benar, lancar, dan berdaya saing. Kemudian untuk
implikasi metode Tartila antara lain anak usia dini lebih efektif dan efisien
dalam belajar membaca dan menulis Al-Quran sehingga santri mudah dalam
menguasai materi serta mencapai target capaian pembelajaran.
Foto diatas adalah
pembagian hadiah lomba Baca Al-Quran, Menghafal al-Quran dan doa keseharian.
Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk memberikan motivasi kepada santri agar ada
kompetesi antas peserta didik dan juga penghargaan kepada santri yang juara
dalam lomba keagamaan.
Pengaruh mempelajari Al-Quran untuk anak usia dini
begitu besar, seperti menanamkan kepribadian yang disiplin dan pembentukan
akhlak yang baik. Karena di dalam mempelajari Al-Quran terdapat banyak
macam-macam ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik
diperoleh melalui guru, dari dirinya sendiri ketika dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran di masa usia dini akan menjadi landasan awal tercetaknya suatu
karakter dan pengetahuan anak di masa mendatang, khususnya pada pengetahuan
agama, akhlak, ataupun kepribadian yang berbudi luhur sebagaimana semangat Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa
salah satu indikator manusia bisa dikategorikan sebagai manusia terbaik ialah
ketika seseorang mau belajar Al-Quran dan mengajarinya. (HARI. Al-Bukhari). Sebab
kemampuan dalam membaca Al-Quran degan baik dan benar merupakan suatu kewajiban
bagi setiap umat muslim dan, perkembangan agama
pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya,
terutama pada pertumbuhan yang pertama (masa anak umur 0-12 tahun). Zakiah Drajat: 1993).
3
Kesimpulan
Berdasarkan analisis data hasil pengabdian di Madrasah
Raudlatul Muta’allimin dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
a. Pembelajaran
baca Al-Quran difukuskan pada menyimak, membaca, intonasi suara, dan menulis
huruf-huruf hijaiyah. Kemudian untuk meningkatkan ingatana anak didik, juga
menggunakan metode hafalan surat-surat pendek, dan imla’. Selain itu,
pendamping melakukan rotasi kelas yang diterapkan dalam pergantian jam
pelajaran. Penerapan metode Tartila lebih menekankan pedak kemampuan menulis,
smeentara metode Iqra’ lebih difoksukan pada cara baca Al-Quran.
b. Penggabungan
antara dua metode yang fokusnya berbeda dengan kombinasi metode Iqro’ dan Tartila
telah memberikan pemahaman dasar bagi anak usia dini terhadap huruf hijaiyah,
tajwid, makhorijul huruf, dan cara-cara dasar menulis Al-Quran lebih cepat dan
beimbang. Sebab anak didik tidak hanya menghafal huruf tapi juga dapat
mengingat dengan praktik menulis.
Dari hasil pengamatan dan pelaksanaan PKM dapat direkomendasikan hal-hal
sebagai berikut:
a. Agar
pembelaran lebih efektif dan mencapai target perlu alat peraga baik cara baca
dan cara menulis. Sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan lancer
b. Agar
pembaelajaran mencapai target yang telah ditetapkan perlu ada klasifikasi
kemampuan anak secara ketat berdasarkan usia dan kemampuan peserta didik.
c. Terkait durasi pelaksaaan PKM perlu diatur dengan lebih baik, tidak hanya mempertimbangkan lama PKM tapi juga efektifitas pelaksanaan di lapangan.