Senin, 02 Januari 2023

Akselesari Baca Tulis Al-Quran Untuk Anak Usia Dini Dengan Metode Iqra’ dan Tartila

Kajian  ini bertujuan untuk mengetahui opersionalisasi kombinasi metode Iqra dan Tartila dan efektifitas dalam penerapan metode tersebut pada anak usia dini di Madrasah Diniyah Raudlatul Muta’allimin.  Pemilihan metode tersebut diharapkan dapat mengakselerasi kemampuan baca tulis Al-Quran secara optimal.  Sementara pendekatan yang digunakan adalah pendekatan edukatif dan partifipatoris guna mencapai target capaian yang ditetapakn selama pengabdian. Hasil dari PKM: 1). Pembelajaran baca tulis Al-Quran difukuskan pada menyimak, membaca, makharijul huruf, dan menulis huruf-huruf hijaiyah. Kemudian untuk  meningkatkan ingatan peserta didik menggunakan metode hafalan dan dikte (imla’). Selain itu, pendamping melakukan rotasi kelas pada saat pergantian jam pelajaran. Penerapan metode Tartila lebih menekankan pedak kemampuan menulis, sementara metode Iqra’ lebih difokuskan pada cara cepat baca Al-Quran.  2). Penggabungan antara dua metode yang fokusnya berbeda yaitu kombinasi metode Iqro’ dan Tartila memberikan pada meningktnya kemmapuan dasar anak usia dini terhadap huruf hijaiyah, makhorijul huruf, dan cara-cara dasar menulis Al-Quran dengan lebih efektif, efisien dan beimbang antara kemampuan membaca dan menulis. Melalui metode kombinsi tersebut anak didik tidak hanya menghafal huruf tapi juga dapat mengingat lebih mudah melalui praktik menulis secara berulang-ulang sekigus memiliki kemampuan menilis Arab dengan baik.  

Ainul Yakin, Ainul Yakin, Ferdiyansyah, Fikri Ahmad Ghani, 

Candra Revan Daus 


a.    Madrasah Diniyah Raudlatul Muta’allimin

 

Lembaga Madrasah Diniyah (MADIN) adalah pendidikan keagamaan Islam non formal yang menyelenggarakan pendidikan Agama Islam. Pendidikan tersebut sebagai penyempurna (takmiliyah) Pendidikan umum mulai jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi.  MDRM berada di kawasan Perum WPS Dusun Pengadegan Desa Kebonagung Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur. Madrasah ini didirikan pada tahun 2018 oleh Ainul Yakin Bersama tokoh masyarakat yang lain seperti Muhammad Syaifudin Zuhri, Subardi, Hadi dan Edi Morjianto. Latar belakang berdirinya MDRM karena minimnya Pendidikan Islam di lingkngan perumahan WPS. Jadi Pendidikan tersebut sebagai wadah bagi anak-anak yang bertempat tinggal di Perum WPS. Sebab menurut Ainul Yakin, agar anak-anak bisa membaca al-Quran dengan baik dan memahami keawajiban agama Islam dasar tidak cukup dengan Pendidikan umum. Oleh karenaya harus dibantu dengan Pendidikan lain yang sifatnya non formal seperti Madrasah Diniyah atau Taman Pendidikan Al-Quran.

Apalagi kesadaran warga Perumahan WPS terhadap Pendidikan Islam relatif rendah sehingga perlu adanya upaya untuk memasyarakatkan Pendidikan Islam sejak dini. Sehingga akhirnya dapat membudayakan Al-Quran dan praktik keagamaan yang baik. Selan itu juga perlunya materi agama dasar seperti fiqih, ilmu tauhid dan ilmu akhlak untuk anak-anak.

Adapun visi dan misi MDRM ialah terwujudnya anak saleh dan berakhlak mulia. Untuk mencapai visi tersebut, Kepala MDRM membuat misi: Menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam yang kondusfi, Melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap santri, Optimalisai kegiatan belajar mengajar dan klasifikasi serta pemetaan peserta didik sesuai usia dan kemampuan.

 

Gedung Madrasah Diniyah Raudlarul Muta’allimin

 

 

 

 

 

 


Gedung di atas digunakan untuk sarana belajar santri Madin. Sarana ini sifatnya pinjaman karena MDRM tidak punya gedung sendiri. Tempat tersebut adalah Mushalla Baitus Salam kompleks perumahan. Sempat beberapa kali sarana belajar MDRM menggunakan tempat lain seperti musallla al-Hidayah. 

Sementara jumlah santri sekitar 56 orang, ada yang sudah lulus dan ada juga yang sudah berhenti karena pindah daerah atau tempat tinggal. Untuk model kelas menggunakan model klasikal atau pembagian kelas menurut kemampuan masing-masing santri, yang biasa disebut kelas I’dad (kelas bawah) dan kelas Ula (kelas atas). Kelas I’dad dibagi menjadi 2, I’dad A pelajaran iqro’ 1-2, dan I’dad B pelajaran iqro’ 3-4, kemudian untuk kelas Ula dibagi menjadi 2, Ula 1 pelajaran iqro’ 5-6, dan Ula 2 pelajaran Al-Quran. Untuk memudahkan pemahaman dapat dilihat pada tabel di bawah.

 

Jumlah Peserta Didik Madrasah Diniyah Raidlatul Mutaallimin

Kelas

I’dad A

I’dad B

Ula 1

Ula 2

Jumlah Santri

12

13

9

11

Materi Iqra’

Iqra’ 1 daan 2

Iqra’ 3 dan 4

Iqra’ 5 dan 6

Al-Quran

Materi Tartila

Tartila 1

Tartila 2

Tartila 3

Tartila 4

Jumlah pererta didik yang belajar di MDRM pada tahun 2019 sebanyak 73 orang. Namun pada tahun berikutnya, 2020 mengalami penurunan karena ada yang lulus dan terdampak Pandemi Covid 19. Saat ini, tahun 2022 jumlah santri sebanyak 46 orang. Dari jumlah tersebut dibagi menjadi empat kelas yaitu kelas I’dad A, I’dad B, Ula 1 dan Ula 2.

Sedangkan materi pedoman buku ajar yang digunakan adalah Iqra’ dan Tartila. Kedua materi tersebut digunakan secara bersamaam pada masing-masing tingakatan. Hal ini bertujuan agar kemampuan membaca dan menulis anak didik berjalan seara seimbang. Selain itu, gabungan metode diarahkan agar terjadi akselerasi baca tulis Al-Quran. Metode Tartila adalah salah satu metode pembelajaran Al-Quran bagi para pemula yang disertai latihan menulis dan penjelasan ilmu tajawib dasar. Metode tersebut merupakan metode yang dikeluarkan oleh Jamiyah Qurra’ wa Tahfizd NU. 

 

b.    Progres Pelaksanaan

Penerapan gabungan metode Iqro’ dengan Tartila disesuaikan dengan kebutuhan anak didik dan rombongan belajar (rombel). MDRM menerapkan empat rombel yang terdiri dari I’dad A dan B, Ula I dan Ula II. Materi Al-Quran ini merupakan materi utama yang setiap hari dijajarkan. Selain materi Al-Quran ada materi lain seperti fiqih, ilmu tauhid dan ilmu akhlak. Materi  Al-Quran dengan menggunakan Iqro’ jilid 1-6 dan Tartila Jilid 1-4. Jika sudah lulus materi tersebut maka dilanjutkan dengan membaca Al-Quran juz 1-10 di kelas Ula II. Kemudian untuk materi penunjang untuk Al-Quran ialah ilmu tajwid, hafalan surat pendek, menulis huruf Hijaiyah makharijul huruf. Dengan demikian, pengajaran Al-Quran untuk anak usia dini dapat mencapai kebutuhannya sampai pada tingkat kemahiran tajwidnya dalam membaca Al-Quran sebagaimana yang dipraktikkan Rasulullah SAW yang selalu menganjurkan agar dalam membaca Al-Quran dengan bertajwid (Thalib, 1991).   

Kemudian untuk metode Tartila merupakan metode belajar membaca Al-Quran yang disampaikan secara seimbang antara pembiasaan melalui pendekatan klasikal dan kebenaran membaca melalui pendekatan individual dengan teknik baca simak. Tujuan metode Tartila yaitu untuk mempermudah guru dalam proses mengajar, menggali minat peserta didik untuk mempelajari Al-Quran dengan mudah, meminimalisir waktu dan melatih daya ingat. Selain itu metode ini juga dapat mempercepat daya ingat peserta didik termasuk pada hafalan ayat-ayat pendek dan bacaan sholat.  

Strategi dan Metode Pelaksanaan PKM

No

Agenda

Strategi

Metode

Target

1

Pengenalan huruf Hijaiyah

Pasif dan Aktif learnig

Talqin (guru baca-anak didik mengikuti)

Mengenal masing-masing huruf hijaiyah  

 

2

Pengenalan Angka-angka Arab

Praktik

Menulis berulang-ulang

Mengenal angka Arab

3

Pengenalan tanda baca

Mendengarkan

Menyimak dan praktik

Mengenal tanda baca dengan benar

4

Pengenalan cara menulis huruf satu persatu

Aktif Learding

 

Menyimak dan praktek menulis

Mampu menulis huruf hijaiyah dengan benar

5

Pengenalan makharijul huruf

Praktik dan Latihan 

 

Latihan membaca berulang

Anak didik dapat menyebutkan huruf sesuai makharijnya

6

Pengenalan makharijul huruf

Praktik dan Latihan 

 

Latihan membaca berulang

Anak didik dapat mempraktikkan dan membunyikan huruf dengan benar

            Program di atas dilakukan selama tiga bulan setiap hari kecuali hari Sabtu dan Ahad. Pendamping melakukan pembinaan sesuai dengan kelas yang telah ditentukan. Pengabdian kepada masyarakat ini difokuskan pada pendampingan pembelajaran baca dan tulis cepat Al-Quran di MDRM. Pembelajaran cepat ini sebagai upaya untuk mengimbangi materi sekolah yang secara struktur kurikulum lebih padat, sementara materi Agama relative minim. PKM semacam ini menjadi penting untuk mewadahi anak usia dini dalam belajar Al-Quran dengan efektif dan efisien.

Foto Kegiatan Belajar Mengajar Madin dengan Metode Iq’ra’ dan Tartila

 

 

 

 

 

 


Foto di atas menunjukkan kegiatan yang dilaksanakan oleh PKM dalam pembelajaran dengan metode Iqra’ dan Tartila. Metode pembelajaran dilakukan dengan model klasikal dengan materi yang berbeda sesuai dengan usia dan kompetensi.

Selama melakukan PKM, pihak mitra merasa terbantu dengan adanya pendampingan Al-Quran dengan lebih intensif oleh pihak kampus. Apalagi lokasi mitra yang berada di perumahan dan minim materi Agama. Sekalipun keberadaan madrasah diniyah ini seringkali dipandang sebagai kelas nomor dua di mata masyarakat. Warga perumahan lebih mengutamakan sekolah umum. Jika pun memilih madarasah hanya sebagai alternatif. Jadi dukungan wali murik yang relative rendah menjadi kendala sendiri untuk mencapai target yang ditetapkan pihak madrasah. Selain itu juga kebijakan pemerintah mulai dana, beasiswa, dan bantuan-bantuan lainnya yang dikelola pemerintah, madrasah selalu mendapatkan yang terakhir dan kadang terlewatkan.

Kegiatan pengabdian di Madrasah Diniyah Raudlatul Muta’allimin dilakukan dua kali dalam satu minggu yaitu hari Senin dan Kamis, dimulai dari jam 15.10-16.50 WIB dan dihadiri enam (6) peserta PKM dan guru yang yang punya jadwal. Tahapan pengabdian yang pertama yaitu tahapan persiapan atau perkenalan. Dalam tahap ini peserta PKM melakukan identifikasi masalah yang ada di lapangan terkait dengan pengajaran Al-Quran, jumlah santri, jumlah guru dan materi yang diajarkan. Identifikasi masalah dilakukan dengan dialog, obsrvasi dan wawancara kepada pimpinan dan guru.  Berdasarkah hasil observasi terdapat beberapa kendala yang dialami oleh para guru dalam mengajar antara lain, kurang kondusifnya kelas karena runag belajar yang sangat terbatas, jumlah santri yang relative banyak tapi tidak disiplin masuk madrasah. Oleh karenanya, Tim menentukan metode pengajaran Al-Quran yang mudah dipahami oleh santri yang sesuai dengan kemampuan mereka antara lain metode Iqo’ dan Tartila.

Di MDRM terdapat beberapa pembagian kelas, antara lain: kelas I’dad A, I’dad B, Ula 1 dan Ula 2, selain itu karena peserta kelompok KKN pengabdian hanya mendapatkan bagian mengajar pada hari Senin dan Kamis, maka Tim mengikuti alur jadwal yang sudah berjalan sejak dulu. Pembelajaran di I’dad A karena para santri masih belajar Iqro’ 1-2 yang berjumlah sekitar 15 satri, maka Tim menekankan kepada santri untuk lebih fokus kepada menyimak, membaca, intonasi suara, dan menulis huruf-huruf hijaiyah. Kegiatan ini bisa dicontoh melalui simaan dari guru ataupun teman-temannya. Dengan demikian para santri dapat melantunkan huruf hijaiyah yang baik dan benar, dan dapat membantu santri untuk dapat melafalkan huruf tersebut dengan fasih. Begitu juga di I’dad B yang santrinya masih belajar Iqro’ 3-4 yang berjumlah sekitar 17 santri, untuk pembelajarannya tidak jauh beda dengan pembelajaran I’dad A.

Kemudian untuk penerapan pembelajaran di Ula 1 yang santrinya berjumlah sekitar 14 santri, Tim PKM lebih memfokuskan kepada menyimak, membaca, hafalan surat-surat pendek, dan imla’, karena para santri masih mengaji Iqro’ 5-6. Untuk Ula 2 karena santri sudah Al-Quran yang berjumlah 15 santri, maka Tim menekankan untuk lebih fokus ke pembacaan lafadz makhorijul huruf, tajwid, dan imla’. Selain itu ada beberapa kegiatan perolingan atau pergantian posisi guru pengajar yang diterapkan sebelum dan sesudah istirahat, kegiatan ini hanya berlaku untuk I’dad A dan B. Sebelum istirahat Tim PKM ngajar di I’dad A dan guru di I’dad B, dan setelah istirahat Tim pindah kelas ke I’dad B dan guru di I’dad A. Dengan starter tersebut kemampuan anak didik lebih terukur selama pelaksanaan PKM.  Bahkan ada perkembangan kemampuan baca dan menulis karena pembagian kelas dengan model dampingan kelas yang lebih kecil. Hal ini terbukti pada saat diadakan lomba baca Al-Quran. 

1     Pembahasan

PKM yang dilakukan Tim adalah salah satu implementasi dari Tridharma Perguruan Tinggi yang mana seorang dosen tidak hanya melakukan transfer of knowladge tetapi juga turun ke masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan nyata di masyarakat. Dalam PKM kali berbentuk pendampingan dan pembinaan baca tulis Al-Quran di MDRM. Pada saat melakukan pendampingan beberapa metode yang dilakukan yaitu ceramah, dialog, hafalan, praktik, talqin (guru baca, kemudian peserta didik mengikuti), dan penugasan.  Metode pengajaran Al-Quran dilakukan secara flaksibel disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Sebab   masing-masing tingkatan di MDRM memiliki kemampuan yang berbeda-beda sehingga membutuhkan keterampilan guru untuk mengemas kegiatan pembelajaran yang menyenangkan sehingga membuat anak-anak merasa senang dan menikmati saat belajar. 

Paraktik Menulis Al-Quran dengan Metode Tarila

 

 

Gambar di atas adalah salah satu contoh penerapan metode Tartila untuk penoingkatan kemampuan pserta didik dalam menulis Al-Quran.  Dalam buku pedoman metode Tartila sudah dilengkapi dengan tata cara menulis. Peserta didik dinggal dilatih untuk menebali seriap buku kerja yang sudah disediakan dalam Buku Pedoman.

Pembelajaran untuk anak usia dini tentu berbeda dengan orang dewasa. Anak usia dini secara psikologis membutuhkan model pembelajaran yang menyenangkan, menghibur, dan menarik untuk meningkatkan daya ingat anak-anak terhadap materi. Metode-metode pembelajaran yang beragam selama pelaksanaan PKM berdampak pada kualitas pembelajaran sehingga dapat peserta didik pebih cepat dalam menangkap materi. Hal ini terbukti dari hasil pre tes dan post tes yang dilakukan Tim. Namun demikian, Tim mengakui adanya kelemahan saat PKM seperti tenaga PKM yang ada keterbatan dalam penguasaan kelas. Sebab kualitas pengajar sangat menentukan kualitas peserta didik. Apalagi yang menjadi subjek PKM adalah anak usia dini yang memerluakan perhatian serius dari stakeholder serta manajemen dan sumber daya manusia yang memadai agar capaian pembelajaran sesuai target. (Wafa et al., 2021).

Pelakasaan PKM salama rentang tiga bulan diakui telah berdampak pada perubahan kemampuan peserta didik dalam membaca dan menulis Al-Qurana dengan metode Iqra’ dan Tartila. Metode tersebut cukup relevan untuk anak usia dini sebagaimana hasil penelitian Nurhayati dalam Penelitian Tindakan Kelas di Raudhatul Athfal Daarul Hikmah Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis. (Nurhayati et al, 2018). Keberhasilan dalam pelaksanaan PKM juga didukung dengan kombinasi metode Iqro’ dan Tartila yang dilakukan secara bersamaan. Khususnya metode Tartila pada aspek kemampuan menulis yang sangat relevan untuk anak usia dini.

Praktik Memabaca  Santri Madin

 

 

 

 

Selain praktik menulis peserta didik juga dilakukan pendekatan face to face (talqin) dengan cara menyimak setiap bacaan yang disampaikan oleh guru, dimana santri membaca langsung satu persatu di depan guru. Hasil bacaan tersebut kemudian ditulis atau dicatat dalam buku harian santri dan buku Tartila. Jika santri bisa membaca dengan lancar dan benar maka santri bisa melanjutkan ke halaman atau materi selanjutnya. Teknik talqin ini juga bisa disebut teknik privat atau individual. Sedangkan bagi santri yang sudah khatam diwajibkan untuk membaca halaman terakhir dan jika bacaannya baik dan benar maka bisa dilanjutkan pada tingkat jilid selanjutnya atau dapat melanjutkan ke tahap Al-Quran.

Selain teknik individual yang telah dijelaskan di atas, penerapan pembelajaran di  MDRM juga menggunakan teknik klasikal. Dimana semua santri mendapatkan waktu yang sama ketika belajar. Jadi antara santri yang datang lebih dulu dan yang terakhir mendapatkan alokasi waktu belajar yang sama. Ketika pelajaran dimulai maka guru memberikan contoh bacaan atau materi terlebih dahulu, kemudian semua santri mengikuti bacaannya. Hal ini juga bisa mengatasi kebosanan santri dalam belajar Al-Quran. (Rozi & Aminullah, 2021).

Target yang diharapkan Tim mencapai maksimal ternyata hanya mencapai 85 % keterccapaian. Target capaian semula sebesar 90 %. Berarti ada selisih 5 % yang tidak tercapai. Hal tersebut terkendala hal-hal berikut yaitu, rendahnya dukungan orang tua sehingga anak didik tidak masuk madsarah secara disiplin dan pentingnya belajar Al-Quran, rendahnya motivasi belajar  mandiri saat guru focus pada anak didik yang lain, banyak anak luar peserta didik yang bermain di lingkungan madrasah sehiingga anak-anak tidak focus. Selain itu juga pengaruh permainnan game online bersama sehingga bolos belajar. Hal ini juga diakui dalam penelitian Sopyan Sauri di TPA Dusun Lelonggek Desa Suntalangu (Sauri et al., 2021).

2     Penerapan Iqra’ dan Tartila: Solusi Percepatan Baca Tulis Al-Quran

Selama pelaksaan PKM dalam durasi waktu tiga bulan penerapan metode Iqra’ dan Tartila telah menjadi solusi yang efektif untuk percepatan baca tulis Al-Quran untuk santri Madin. Hal ini terbukti dengan kemampuan anak didik sebelum dan pasca PKM. Sebelum PKM 70% santri Madin atau setara 30 orang kesulitan dalam menulis Al-Quran. Akan tetapi daru julah tersebut pasca PKM ada peningkatan kemapuan yaitu sejumlah 20 orang mengalami peningkatan kemampuan menulis Al-Quran.

Implikasi penerapan metode kombinasi Iqro’ dengan Tartila di MDRM telah memberikan pemahaman dasar bagi anak usia dini terhadap huruf hijaiyah, tajwid, makhorijul huruf, dan menulis Al-Quran. Hal ini bisa dijadikan bekal anak usia dini dalam membaca Al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan. Selain itu juga dapat meningkatkan kualitas lembaga, karena semua santri telah berlomba-lomba dalam belajar membaca Al-Quran dengan baik, benar, lancar, dan berdaya saing. Kemudian untuk implikasi metode Tartila antara lain anak usia dini lebih efektif dan efisien dalam belajar membaca dan menulis Al-Quran sehingga santri mudah dalam menguasai materi serta mencapai target capaian pembelajaran.

Pembagian Hadiah Lomba Madin

 

 

 

 

 

 

            Foto diatas adalah pembagian hadiah lomba Baca Al-Quran, Menghafal al-Quran dan doa keseharian. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk memberikan motivasi kepada santri agar ada kompetesi antas peserta didik dan juga penghargaan kepada santri yang juara dalam lomba keagamaan.

Pengaruh mempelajari Al-Quran untuk anak usia dini begitu besar, seperti menanamkan kepribadian yang disiplin dan pembentukan akhlak yang baik. Karena di dalam mempelajari Al-Quran terdapat banyak macam-macam ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik diperoleh melalui guru, dari dirinya sendiri ketika dalam proses pembelajaran. Pembelajaran di masa usia dini akan menjadi landasan awal tercetaknya suatu karakter dan pengetahuan anak di masa mendatang, khususnya pada pengetahuan agama, akhlak, ataupun kepribadian yang berbudi luhur sebagaimana  semangat Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa salah satu indikator manusia bisa dikategorikan sebagai manusia terbaik ialah ketika seseorang mau belajar Al-Quran dan mengajarinya. (HARI. Al-Bukhari). Sebab kemampuan dalam membaca Al-Quran degan baik dan benar merupakan suatu kewajiban bagi setiap umat muslim dan, perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada pertumbuhan yang pertama (masa anak umur 0-12 tahun). Zakiah Drajat: 1993).

3     Kesimpulan

Berdasarkan analisis data hasil pengabdian di Madrasah Raudlatul Muta’allimin dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

a.      Pembelajaran baca Al-Quran difukuskan pada menyimak, membaca, intonasi suara, dan menulis huruf-huruf hijaiyah. Kemudian untuk meningkatkan ingatana anak didik, juga menggunakan metode hafalan surat-surat pendek, dan imla’. Selain itu, pendamping melakukan rotasi kelas yang diterapkan dalam pergantian jam pelajaran. Penerapan metode Tartila lebih menekankan pedak kemampuan menulis, smeentara metode Iqra’ lebih difoksukan pada cara baca Al-Quran. 

b.      Penggabungan antara dua metode yang fokusnya berbeda dengan kombinasi metode Iqro’ dan Tartila telah memberikan pemahaman dasar bagi anak usia dini terhadap huruf hijaiyah, tajwid, makhorijul huruf, dan cara-cara dasar menulis Al-Quran lebih cepat dan beimbang. Sebab anak didik tidak hanya menghafal huruf tapi juga dapat mengingat dengan praktik menulis.   

 

Dari hasil pengamatan dan pelaksanaan PKM dapat direkomendasikan hal-hal sebagai berikut:

a.      Agar pembelaran lebih efektif dan mencapai target perlu alat peraga baik cara baca dan cara menulis. Sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan lancer

b.      Agar pembaelajaran mencapai target yang telah ditetapkan perlu ada klasifikasi kemampuan anak secara ketat berdasarkan usia dan kemampuan peserta didik. 

c.       Terkait durasi pelaksaaan PKM perlu diatur dengan lebih baik, tidak hanya mempertimbangkan lama PKM tapi juga efektifitas pelaksanaan di lapangan.